Autisme adalah gangguan kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi yang biasanya membuat anak-anak yang terkena sindrom autisme menjadi super cuek dengan lingkungannya. Namun, seiring banyaknya terapi dan perkembangan pengetahuan, autisme bisa diminimalkan, bahkan bisa sembuh seperti layaknya orang normal.

Mengetahui anak mengalami gangguan tumbuh kembang, tentu mengejutkan bagi orang tua. Dan semakin terpukul saat dokter memvonis buah hati terkena autisme. Sampai usia 3 tahun, anak belum juga berbicara dan perilakunya cenderung asik dengan diri sendiri.

Gangguan tumbuh kembang ini akan semakin parah, jika orang tua berusaha menutupi dan terkesan malu dengan kondisi anaknya. Berbeda dengan orang tua yang bisa menerima keadaan, kemudian berusaha untuk memberikan perlakuan serta terapi terbaik untuk anak. Maka, gejala autisme sedikit demi sedikit akan terkikis, seiring perkembangan si anak menuju ke arah positif.

Tahap pertama yang harus dilakukan adalah ikhlas, menerima kondisi anak dengan lapang dada. Kemudian tidak malu membawa anak untuk bertemu banyak orang. Ini merupakan awal yang positif. Selanjutnya, jika didukung dengan terapi yang tepat, maka anak akan mulai bisa berinteraksi dengan lingkungan secara perlahan.

Contoh kasus, pada usia 4 tahun, Syena mulai bisa berbicara, setelah mengikuti terapi wicara dan perilaku sejak usia 2 tahun. Awalnya hanya huruf hidup (a-i-u-e-o) yang bisa diucapkan dengan  jelas. Misalnya memanggil ibu, maka ia akan bersuara I-U, memanggil ayah, dengan sebutan A-A.

Setelah mengikuti les membaca privat, pada usia 2,5 tahun, tiba-tiba Syena bisa membaca. Hal tersebut diketahui orang tuanya, saat tiba-tiba Syena memanggil ibunya dengan sebutan, I-B-U, tepat seperti tulisan. Kemudian semua kata-kata yang diucapkan sesuai dengan tulisan, namun disebut per huruf. Secara perlahan, kebiasaan membaca per huruf berubah dan kini sudah bisa berbicara dengan lancar.

Tak hanya dalam bicara, dalam bersosialisasi, Syena juga mengalami hambatan. Ia selalu asik dengan mainannya sendiri, terutama benda elektronik, seperti game di HP dan nonton televisi. Sikap individual ini mulai terkikis, setelah ia masuk SD. Teman-teman yang selalu mengajak bermain, bercakap-cakap, pada akhirnya membuka mata Syena untuk melihat lingkungan sekitar.

Sekarang tidak hanya pandai berinteraksi, Syena justru menjadi anak paling ramah di sekolah dan di rumah. Semua orang yang dijumpainya akan disapa dengan salam, kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan, namanya siapa, rumahnya dimana, hobinya apa dan seterusnya. Percakapan seperti itu baru akan terhenti saat orang yang diajak ngobrol pergi.

Tuhan maha adil, meskipun mengalami gangguan tumbuh kembang, namun Syena mempunyai daya ingat yang sangat baik terhadap segala hal. Ia akan mengingat nama, alamat dan semua hal tentang orang yang pernah diajaknya mengobrol. Tidak hanya itu, setiap jalan yang ia lalui juga akan diingat nama jalan dan letaknya, pun ketika ia pergi keluar kota. Meskipun hanya satu kali berkunjung ke sebuah kota, ia akan ingat nama jalan, hotel dan apa saja yang dilihatnya sepanjang jalan, termasuk rute jalan.

Di sekolah Syena juga dikenal dengan kemampuan hafalannya yang sangat bagus, surat-surat panjang dalam Al Qurʼbisa dihafal dengan baik, lengkap beserta artinya. Pihak sekolah sering menampilkan Syena dalam berbagai kegiatan dan pentas.

Rutinitas

Hal lain yang menjadi kelebihan anak autis adalah kepatuhannya pada rutinitas. Mulai dari rutinitas bangun pagi hingga menjelang tidur, ada banyak hal yang secara rutin harus dilakukan. Pada masa membangun rutinitas inilah peran orang tua dan keluarga besar sangat diperlukan, supaya terbentuk rutinitas positif pada anak.

Karena sekolah di SDIT (Sekolah Dasar Islam Terpadu), Syena terbiasa dengan rutinitas ibadah tepat waktu. Di sekolah ia selalu rutin mengerjakan sholat Dhuha bersama teman-teman, kemudian sholat dhuhur dan selepas sholat Ashar pulang ke rumah. Kebiasaan ini berlanjut di rumah, begitu mendengar kumandang adzan, Syena langsung bergegas mengambil air wudhu dan berjalan menuju mushola yang berjarak sekitar 500 meter dari rumahnya.

Hal tersebut ternyata berdambak positif pada orang-orang di sekitarnya Suatu ketika, saat magrib menjelang, ayahnya masih duduk di teras menemui temannya yang datang bertamu. Syena yang sudah siap hendak ke mushola, tiba-tiba menegur ayah dan teman ayahnya tersebut, dengan mengatakan kalau laki-laki, jika tidak berhalangan harus sholat di masjid atau mushola. Sambil tersipu malu, si ayah dan temannya mengiyakan dan bergegas pergi ke mushola. Sejak ada teguran dari Syena, ayah selalu mengajak tamunya ke mushola saat waktu sholat tiba.

Anak penyandang autis, ternyata bisa memberikan pelajaran berharga bagi kita, Sikap disiplinnya dan kepatuhannya pada rutinitas, melebihi orang normal dan pada saat tertentu, rutinitas mereka ternyata jauh lebih baik dari rutinitas kita.

Hingga saat ini di Indonesia belum ada survei resmi tentang jumlah penyandang autis. Namun, dipastikan jumlahnya terus bertambah dari tahun ke tahun. Ironisnya tidak semua anak autis tertangani dengan baik, bahkan ada kondisi dimana karena ketidakmampuan ekonomi, anak autis dibiarkan begitu saja, tanpa mendapat penanganan yang semestinya.

UNESCO  pada Tahun 2011 merilis, jumlah penderita autis di seluruh dunia mencapai 35 juta orang. Artinya ada 6 orang autis dari 1000 orang populasi penduduk dunia. Di Indonesia sendiri, Kementrian Kesehatan pada Tahun 2013 pernah merilis, diperkirakan jumlah penyandang autis sekitar 112 ribu anak dengan rentang usia 5-19 tahun.

Sementara dari komunitas terkecil, di SDIT Annida, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, tempat Syena sekolah, dari satu kelas berjumlah 20 anak, ada dua anak penyandang autis. Ada dua kelas inklusi angkatan Syena, dan di kelas satunya, dari 22 siswa, ada dua anak juga penyandang autis. Sehingga dari 42 siswa satu angkatan, ada empat anak penyandang autis.

Minimnya data tentang anak autis ini, tentu berdampak pada minimnya penanganan bagi penyandang autis. Karena itu, keluarga menjadi tempat terapi paling mujarab bagi para penyandang autis. Jangan pernah bosan mengajak mereka berkomunikasi, sekalipun komunikasi itu belum bisa berjalan dua arah dengan maksimal. Namun, setidaknya anak-anak ʼistimewaʼ ini merasa mempunyai teman.  (Hermiana E. Effendi)

Sumber diambil dari: https://geotimes.co.id/opini/belajar-disiplin-dari-anak-autis/