DI TAHUN POLITIK SEMUA DI PERTENGKARKAN

admin utama 31 Jul 2018 opini

Hanya di Indonesia politik dijadikan indikator untuk mengukur kadar iman. Se-khusyuk apapun shalat. Se-fasih apapun bacaan Al Quran di baca. Se-dermawan apapun harta di sedekah. Tak bakal cukup disebut ber-iman jika pilihan partai politik berbeda.

*^^*
Di negara di mana lawan politik dianggap syetan. Politik tumbuh dengan kebencian dan dendam. Demarkasi di buat. Simbol agama ditabalkan pada mereka yang suka atau benci. Partai Allah dan Partai Syetan digulir. Lalu siapa berhak mengklaim tentara Allah.

Politik memang rumit sejak lahir. Ironisnya kita terlahir sebagai makhkuk politik. Apapun bisa terjadi termasuk Ronaldo yang diberi 112 juta euro oleh pabrik mobil Fiat ditengah miskin para buruh pabriknya. Kebijakan yang hanya mengayakan satu orang. Tapi siapa bisa cegah sebab pabrik butuh iklan untuk dikenal banyak orang. Politik dagang tak butuh keringat buruh.

Politik yang tumbuh dari kebencian tak akan berdampak apapun kecuali dendam. Pakistan adalah contoh buruk. Meski Islam menjadi simbol dan ideologi malah berbalik menjadi medan tempur. Area membunuh sesama iman karena beda pilihan politik. Pembunuhan dilakukan oleh yang lantang berteriak takbir. Tuhan dibawa pada wilayah marah. Politik tak ubahnya hanya area untuk saling melampiaskan marah. Lalu agama direduksi pada ruang sempit yang dimaknai: lawan pada se-siapa yang berbeda.

*^^*
Suka berdebat dan menyoal hal kecil. Apapun di per-tengkar-kan. Yang benar dicari salahnya yang salah dicarikan pembenar begitu seterusnya. Utang luar negeri, freeport, tenaga kerja asing, hadiah sepeda, mengandung darah PKI, Sengkuni, ulama busuk hingga plonga plonga dan sebutan rendahan untuk lawan dari cebong, kampret hingga sumbu pendek. Bahkan para ulama tak luput dari sasaran amuk dan bullying. Kita telah berubah menjadi kawanan kanibal pemakan bangkai saudara sendiri. Naudzubillah ...
Meski bukan urusan kita. Demokrasi telah merubah arah dan kita menjadi bagian yang tak dikenal.

Para pemenang merasa paling-yang kalah gagal move-on, kita gagal berdemokrasi. Aroma kampanye seperti tak bisa berhenti, semua dijadikan mimbar politik. Dan kita benar-benar menjadi zoon-politicon. Semacam binatang politik yang berebut kuat.

*^^*
Sejak kapan pilihan politik menjadi alat ukur ke-imanan. Aktifis partai anu berhak menyandang iman dan duluan masuk Surga dibanding partai anu. Sejak kapan warna biru lebih Islami dibanding warna merah atau sebaliknya, Ayat-ayat politik. Beras politik. Jalan tol politik. Baju politik. Sendal pilitik. Perjanjian politik. Air politik. Kendaraan politik terakhir juara lari 100 meter pilitik. Semua menjadi berhala politik yang disembah dan direbut para politisi untuk melegitimasi. Bahkan ZOHRI pemegang juara dunia lari 100 meter pun di-pertengkar-kan dan harus rela ditarik sana-sini untuk memenuhi syahwat politik.
Wallahu a'lam ..

@nurbaniyusuf
Komunitas Padhang Makhsyar


  • Politik

Terkini