IJTIMA ULAMA: QUO VADIS POLITIK ETIS

admin utama 08 Jan 2019 opini

Ternyata tak jauh beda antara Paslon Capres yang didukung ijtima ulama dan yang didukung partai biasa. Dua rombongan besar dari berbagai hiizb dan manhaj sama-sama mempraktekkan politik transaksional, menghalalakan semua cara termasuk saling sebar hoax untuk mendulang suara.

Saya pernah berpikir etika dan adab dikedepankan mengingat para ulama hadir langsung bertarung mensetarakan diri dan bertaruh marwah berebut kekuasaan, tapi boro-boro memberi uswah politik etis dan adab, sebaliknya para ulama justru ikut larut dalam permainan politik pragmatis dan sekuler jauh dari nilai-nilai Islam yang selama ini dibanggakan. Tidak ada lagi beda antara hizbu-Allah dan hizbus-Syaithan.

Politik nilai, Politik Etis. Politik berkeadaban hanya pemanis kata tapi jauh dari realitas. Dalam praktiknya kedua capres sama seperti pinang dibelah dua. Sama tak ada beda: hoax dilawan hoax. Isu dibalas isu. Fitnah dibalas fitnah. Bully berbalas bully. Perkusi berbuah perkusi yang sama. Tak ada lagi yang bisa dibanggakan.

Pada permainan politik dimana ulama ikut turun bermain mestinya etika dan adab menjadi suguhan, sayangnya tidak sama sekali. Publik justru kian terkesima dengan prilaku politik para ulama yang juga tidak jauh berbeda. Para pewaris Nabi itu bermain seperti politisi biasa. Ner-adab dan ner-etika. Setidaknya para ulama membiarkan kemunkaran politik yang ada di depannya tanpa kata mengapa. Sungguh ironis.

*^^*
Dalam Il Principe, Machiavelli mengembangkan teknik-teknik untuk merebut dan memantapkan pegangan atas kekuasaan politik. Demi tujuan itu, sang penguasa jangan mau dihambat oleh norma-norma moral dan etik. Penguasa harus bersikap tegas, tidak takut berbohong, bersedia melakukan apapun termasuk membunuh, jangan merasa terikat pada janji atau ikatan hutang budi.

Seorang penguasa yang bermurah hati atau baik hati tidak akan berdaya. Kemampuan untuk mempertahankan kekuasaan dengan sarana apapun yang efetif, termasuk yang tidak bermoral, adalah inti paham yang disebut Machiavellisme.

Menurut Machiavelli, tujuan utama berpolitik bagi penguasa adalah mengamankan kekuasaan yang ada pada tangannya. Baginya, politik dan moralitas merupakan dua hal yang terpisah, dan tidak ada hubungan antara moral etik dengan politik kekuasaan.

*^^*
Politik etik hanya klise. Politik nilai hanya mimpi. Politik berkeadaban hanya pemanis kata. Pada realitas politik semua akan berlaku sama. Kekuasaan menjadi tujuan utama dengan dalih dan alasan pen-sakralan. Sebab telah diberi cap agama. Jika para ulama telah berlaku sama maka kepada siapa lagi kita harus berguru ...

@nurbaniyusuf
Komunitas Padhang Makhsyar


  • #opini

Terkini