KONTRAK POLITIK TINGKAT DEWA

admin utama 14 Sep 2018 opini

#2019gantipresiden yang di inisiasi oleh politisi PKS Mardani Ali Sera akan membuat kontrak politik prestisius dengan pasangan Prabowo-Sandi. Sebuah lompatan cerdas agar politik tak hanya tinggal di awang-awang dan rakyat dapat gampang mencandra. Kelompok yang dihuni banyak emak-emak ini akan mengajukan kontrak politik berupa: harga bahan pokok murah, pendidikan gratis dan sebagainya.

Aspirasi emak-emak itu gampang dan sederhana, pokoknya kalau Pak Prabowo jadi, harga telur sebelas ribu, listrik dua ribu (volt ampere) ke bawah disubsidi, sekolah gratis sampai ke sepatu, tas, pakaiannya. Emak-emak sih sederhana aja," kata Mardhani memberi contoh bagaimana kalangan emak-emak bakal mengajukan kontrak politiknya.

Siapa bisa jamin harga bahan pokok bisa murah? Harga telur 10 ribu sekilo tentu akan membuat peternak ayam kolaps, emak-emak protes harga lombok yang melambung tinggi tapi para petani lombok bersuka cita karena untung besar. Semua saling berkelindan dan itu soal peliknya, murah itu relatif dan pasar punya hukum sendiri. Hanya politisi setingkat dewa yang bisa buat harga BBM seliter 400 perak atau sekilo telur kembali lima ribu.

*^^*
Pada akhirnya politik kian mengecil, hanya soal harga sembako dan tarif listrik, tak bisa lepas dari kesepakatan antar kelompok. Siapa dapat apa. Dan itu lazim dalam sebuah proses politik yang berlangsung terbuka dan demokratis.

William Lidle memberi catatan khusus tentang politik raja-raja Jawa dalam kurun waktu tertentu yang gagal memberi ruang terhadap aspirasi para petani tebu dan para nelayan pesisir justru berbalik menjadi pemberontakan.

Lebih lanjut Lidle memberi catatan khusus tentang pergerakan arus aspirasi masyarakat Jawa. Savety First adalah bentuk lain yang lebih ideal sebab kebutuhan tak cukup hanya dengan bahan pokok makanan. Tapi rasa aman dan nyaman adalah bagian yang tidak terpisah.

*^^*
Arus aspirasi rakyat pinggiran justru kerap memilih pemimpin yang dianggap teduh, tidak ambisius dan rendah hati. Masyarakat Jawa adalah masyarakat yang memelihara prilaku simbolik. Unggah-ungguh dan keteladanan yang diunggah lewat prilaku tata suara dan tata laku. Calon yang terlihat ambisius rawan ditinggalkan sebab tradisi Jawa lebih mengedepankan 'andap ashor' lawan dari 'minteri'.

Setidaknya penelitian James C Scott tentang prilaku petani Thailand pinggiran dan Jawa pesisir yang kerap dimarjinalkan memberi ilustrasi yang bisa dijadikan rujukan. Savety fisrt adalah jawaban cerdas dan lekat dengan pikiran Jawa pinggiran. Sebab masyarakat Jawa menganggap Presiden tak cukup hanya soal pilihan politik dan alat menyalurkan aspirasi tapi juga spiritualitas dan kebatinan.

*^^*
Presiden adalah soal tempat menitip keselamatan sebab dia menyandang beban Ratu. Presiden di Indonesia sesunguhnya adalah 'Ratu di Tlatah Tanah Jawa' bukan hanya soal berapa banyak biting di dapat atau berapa puluh ormas mendukung. Kuat dan pintar saja tak cukup, nyatanya banyak orang yang terlihat kuat tiba-tiba hilang dari peredaran pun dengan pintar, kurang pintar apa para profesor dan maha guru, tetap saja tak laku di pasar politik, bahkan partai yang dihuni orang-orang pintar dan para cerdik cendekia banyak yang kolaps dan gagal mempertahankan ambang batas .. dan kalah bersaing dengan partai bikinan orang biasa ..

@nurbaniyusuf
Komunitas Padhang Makhsyar

ilustras:http://sumsel.tribunnews.com/2018/09/10/berita-politik-terkini


  • opini

Terkini