Persinggungan Selfie, Fotografi dan Politik

admin utama 06 Dec 2018 opini

Radityo Widiatmojo, Dosen Ilmu Komunikasi – FISIP – UMM
Perbincangan fotografi dari perspektif teknis belaka tentu membuat pemikir kritis merasa miris. Susan Sontag di tahun 1970an, mengkritisi fotografi sebagai medium untuk melakukan objektivasi manusia melalui alat bernama kamera. Pemikiran senada juga disampaikan oleh Svarajati di tahun 2013. Berbeda dengan Solomon-Godeau yang memandang bahwa fotografi memiliki persinggungan yang kuat dengan politik, kekuasaan dan ketidakberdayaan dalam wujud representasi visual.

Bagi Solomon-Godeau, fotografi memiliki sifat dualisme, yaitu Inside-Out. Di suatu saat ia bisa berada dalam dunia politik, di saat berlainan atau bersamaan mampu berpolitik di dalam dirinya sendiri, sehingga fotografi sejatinya mempunyai daya yang sangat kuat untuk mempengaruhi perilaku manusia, apalagi di tahun politik.
Salah satu contohnya adalah perubahan perilaku selfie masyarakat yang dipengaruhi oleh nomer urut pasangan Capres 2019. Beberapa tahun belakangan, anak alay identik dengan pose tangan angka dua atau lebih dikenal sebagai v-sign. Di tahun politik, makna berpose seperti itu akan menimbulkan auto-tafsir. Fenomena yang sedang menjadi tren adalah pada saat mau foto bersama, semuanya sudah pada lupa angle untuk menampilkan pose terbaik.
Yang ada adalah kebingungan menata gestur tangan, karena rawan terbaca sebagai bentuk dukungan terhadap salah satu pasangan Capres. Mengacungkan telunjuk atau memberi jempol, nanti dikira pro Jokowi, v-sign dikira pro Prabowo. Tangan di bawah nanti dikira orang jadul. Pokoknya menjadi serba salah karena tujuan akhir dari aktivitas foto bersama adalah grup WA.
Di tahun politik ini, grup WA bertransformasi menjadi sebuah arena berlabuhnya makna-makna atas berbagai tulisan dan foto yang bersemayam di dalamnya. Dalam konsepsi Pierre Bourdie, arena dipahami sebagai medan pertempuran untuk bertahan (eksis) dengan menggunakan sumber-sumber simbolik. Di Grup WA, sumber simbolik yang paling mutahir adalah foto. Maka pose tangan menjadi sangat relevan dengan pilihan calon Presiden tahun depan. Jika tidak ingin menonjolkan keberpihakan ataupun sungkan dengan orang yang pendapatnya berseberang, maka jari tangan harus dikondisikan.
Sungguh unik perilaku baru ini, dimana sang sosok atau spectrum (meminjam istilah Roland Barthes) sudah mengerti makna yang akan muncul ketika imaji tersebut disajikan kepada khalayak. Ini merupakan gejala sudah sadarnya masyarakat Indonesia bahwa sebuah foto bisa memiliki beragam makna dalam tahun politik. Bisa jadi, fenomena kecil ini sebenarnya termasuk bentuk dari kesadaran politik, walau harus berperilaku yang menggelitik.
Politik ternyata bisa hinggap dimana saja, bersinggungan dengan siapa saja, tergantung pada manusia yang memberi makna kepadanya.
Persinggungan politik dengan fotografi sebenarnya tidak berhenti pada perilaku selfie. Kekuatan visual dalam merepresentasikan sosok calon presiden selalu dimanfaatkan dalam dunia politik. Pete Souza, fotografer kepresidenan Obama, selalu menampilkan foto-foto Obama sesuai dengan kaidah-kaidah Semiotika. Dalam sebuah foto tersemat berbagai tanda-tanda (beserta relasinya) yang mampu memproduksi makna. Obama, selalu dipotret menghadap sebelah kanan.

 

Asosiasi makna dari menghadap ke kanan adalah rasa optimis dan berorientasi ke depan. Makna generik ini, di reproduksi dalam berbagai liputan, poster maupun bentuk kampanye yang lain. Tanpa disadari, masyarakat disajikan rasa optimisme. Ini adalah kontribusi positif fotografi dalam kampanye yang positif.
Sedangkan di Indonesia, tersaji foto-foto justru homogen dari waktu ke waktu. Pendekatan untuk menampilkan sosok calon pilihan selalu jatuh pada konsep Pas Foto. Tidak terhitung berapa jumlah pas foto yang menghiasi ruang publik di seluruh Indonesia. Pernahkah anda terbesit mengapa demikian?
Kita lihat dulu dari dualisme konstruksi visual pas foto. Dari sisi dalam, figur atau fokus utama dalam foto tersebut adalah sosok manusia yang difoto beserta atribusi yang dikenakan. Background foto sama sekali tidak mengganggu atau mengalihkan perhatian. Gestur dalam pas foto pun terlihat sangat formil, karena memang konteksnya adalah pilpres. Kekuatan utama dalam pas foto adalah tatap mata serta mimik muka, yang akan bercengkrama dengan anda saat di dalam bilik suara.
Dari sisi luar, pas foto merupakan pengalaman yang sudah pernah dirasakan oleh masyarakat yang memiliki hak suara. Segala urusan administrasi yang berhubungan dengan negara, wajah anda pasti dibekukan dengan format pas foto. Pengalaman ini melahirkan ihwal kebiasaan dan terbiasa dengan adanya pas foto Capres di ruang publik sehingga akan selalu ingat kepada pasangan Capres, sehingga  apapun yang dilakukan oleh kedua pasangan calon Presiden, masyarakat akan selalu mengawasi dan menghubung-hubungkan dengan berbagai hal.
Terkait dengan budaya menghubung-hubungkan, dalam fotografi dikenal metode diptych. Menurut Deny Salman, menyandingkan dua foto akan menghadirkan makna baru diluar dua foto tersebut. Makna baru tersebut biasa disebut third effect, atau efek ketiga.
Ambil contoh foto petai. Anda pasti ingat Sandiaga Uno yang menaruh petai di atas kepalanya. Untuk memunculkan sebuah perbandingan, maka disandingkanlah foto petai Sandiaga Uno dengan petai Jokowi. Apa yang terjadi?
Yang pasti muncul third effect, yaitu produksi makna yang sangat beragam. Setidaknya produksi makna tersebut bisa kita baca di kolom komentar tempat foto tersebut di unggah, serta di berbagai grup WA. Bila disimpulkan sekilas, maka produksi makna akan sangat berakar pada nomer pilihan. Bagi pendukung nomer 1, gestur Jokowi tampak lebih menghargai petai. Bagi pendukung nomer 2, perlu menciptakan kedekatan dengan cara-cara yang unik dan mudah dikenang.
Bagaimanapun juga fotografi telah memberi warna dalam dunia politik di Indonesia. Tinggal menunggu waktu, kapan politik bisa memberi peluang yang lebih luas kepada publik untuk menampilkan karya fotografi yang jauh lebih apik menggantikan deretan pas foto yang kurang piknik.(*)

Sumber diambil dari: https://www.malang-post.com/netizen/opini/persinggungan-selfie-fotografi-dan-politik 


  • sosial

Terkini