SAKIT KARENA MEROKOK TAK PATUT DITANGGUNG BPJS

admin utama 31 Jul 2018 opini

Di fatwa haram pun tak mempan. Rokok harus mahal. Agar tak sembarang orang bisa beli. Sebab peringatan merokok bakal membuat mati tak membuat jera. Para perokok malah ' dhendheng', Entah berapa milyar batang dihisap setiap hari. Berbagai pandangan mengemuka untuk jenis asap paling eksotik ini. Ada yang menganggap haram, makruh, mubah bahkan tak sedikit yang mencela sebagai kencing iblis. Tak mengapa mengungkap benci meski tak rasional.

Seperti simalakama. Meski berbagai larangan dan peringatan tentang bahaya merokok tapi tak satupun berani tutup pabriknya. Tak ada larangan tanam tembakau, tak ada regulasi tanam cengkeh dan tak ada hukum terima upah dari industri pabrik rokok. Bahkan ormas besar sekelas MUHAMADIYAH juga hanya mengeluarkan fatwa haram merokok tapi tak bersikap tentang pabrik rokok berikut jutaan buruh dan petani tembakau nya. Fatwa hanya mengusik tentang prilaku merokok.

Fatwa pun tak punya efek kuat sebab tak diikuti dengan evaluasi apakah ada pengaruh siginifikan fatwa haram rokok terhadap jumlah perokok. Tapi survey terus mengejutkan sebab jumlah perokok terus bertambah. Kebutuhan jumlah rokok jauh melampaui kebutuhan terhadap kertas atau alat tulis bahkan makanan pokok semacam nasi goreng atau nasi pecel sekalipun tak mampu bersaing. Pendek nya semakin dilarang semakin menjadi. Bahkan peringatan akibat bahaya merokok juga tak membuat perokok takut.

*^^^*
Upaya membatasi ruang gerak perokok terus dilakukan tapi tidak efektif, jumlah perokok pemula terus naik. Produktifitas pabrik juga terus melambung dengan keuntungan berlipat. Bagaimanapun rokok adalah industri paling menjanjikan untung banyak.

Bermula dari industri rakyat, rokok menjelma menjadi industri modern dan canggih. Cukai rokok bisa menjadi alternatif pendapatan yang menggiurkan. Belum lagi peluang terhadap jutaan lapangan kerja. Maka Industri rokok menjadi mesin uang yang efisien.

Jadi rokok bukan soal halal atau haram karena rokok bisa buat penggunanya sakit, itu tidak cukup rasional, karena penyebab sakit bukan hanya karena merokok. Kacang bisa bikin asam urat. Jerohan malah lebih ngeri dibanding rokok sebagai sumber sakit: kolesterol, diabet dan jantung, daging yang dibakar juga bisa bikin sakit kanker, toh kita juga tak lantas bikin fatwa haram makan jerohan, durian. kacang, sate atau belinjo sebagai penyebab kolesterol, jantung, kanker dan tekanan darah tinggi.

*^^*
Rasional larangan merokok tak cukup hanya soal karena mengancam kesehatan atau mubazir, sebab gagdget lebih dari satu juga lebih mubazir dari pada merokok, tapi lebih pada prilaku buruk. Meski prilaku pemegang gadget (phobbing) malah lebih menyebalkan ketimbang perokok, meski sama-sama membuat sakit pemakan durian tak bisa disamakan dengan perokok. Atau pemakan bawang merah atau bawang putih yang dilarang pergi jamaah di masjid karena bau keduanya dikawatirkan mengganggu jamaah sebelah.

Wacana sakit sebab merokok tak layak ditanggung bpjs juga tidak serta merta mengurangi jumlah perokok. Sebab akan ada banyak ongkos sosial dan politik yang harus ditanggung termasuk kemungkinan tuduhan perlakuan deskriminatif terhadap rakyat, bahkan ironisnya cukai rokok bakal dipakai menutup defisit bpjs. Lantas apa mau dikata ... .. mungkin merokok dikategorikan sebagai hobi sebagaimana kecelakaan atau sakit karena hobi yang tak bisa ditanggung bpjs, barangkali bisa menjadi alasan agar tak masuk dalam daftar biaya bpjs ... ".
Maaf .. .. Saya hanya pusing menghadapi para perokok ... 🙏🙏🙏
Wallahu a'lam

@nurbaniyusuf
Komunitas Padhang Makhsyar


  • Kesehatan

Terkini